Keluargaku terkejut mendengar nama yang dibacakan oleh si ustad dalam do’anya adalah Muhammad Aidil Rahman Hidayat. Akhirnya, mau tak mau
itulah nama yang harus kumiliki sampai saat ini.
Ketika TK (Taman Kanak-kanak) aku hanya tahu nama ku
adalah Aman, karena nama itulah yang dipergunakan orang-orang memanggil ku
sehari-hari waktu itu. Untuk bisa lulus di TK, pada saat itu saratnya adalah
menulis nama lengkap sebanyak 10 baris. Dengan cepat dan bangganya aku
menyelesaikan tugas itu. Namun hasil kerja keras ku waktu itu tidak diterima
oleh Ibu guru.
“nama kamu itu bukan Aman, tapi Muhammad Aidil Rahman
Hidayat” kata beliau, sambil menuliskan namaku diatas bukuku.
Semua teman-temanku telah selesai menulis nama lengkap
mereka. Dan aku hanya bisa menangis karena hanya berdua dengan Ibu guru didalam
kelas.
Kadang hal seperti itu membuat aku yang dulu merasa kesal.
Tapi apalah daya, aku harus mensyukurinya. Ketika aku sudah beranjak kelas 6 SD (Sekolah Dasar) aku bertanya kepada Ayah tentang arti namaku.
“Kembali ke jalan yang benar” Kata Ayah sambil tersenyum
padaku. Pada saat itu aku masih tidak terlalu mengerti kenapa nama yang campur
aduk, mempunyai sebuah arti yang sedalam itu.
Tapi sekarang aku mulai mengerti. Sebutan atau nama itu
bukan masalah, tetapi makna yang dibuat menjadi do’a oleh orang tua itulah yang
harus ku wujudkan. Ketika aku tersesat dari kebaikan, maka ‘kembali ke jalan
yang benar’.
***
Lulus Sekolah Dasar, tanpa mengambil rapot dan ijasah aku
langsung masuk pesantren Tahfiz Al-Qur’an mengikuti langkah kakak ku yang sudah
hafal 30 jus. Tetapi aku disana hanya bertahan tiga bulan kerena penyakit usus
buntu yang aku derita. Aku di oprasi dirumah sakit Ulin dan semua biaya rumah
sakit ditanggung oleh Uwa (kaka dari ibuku). Mulai dari hari itu keluargaku
tidak lagi menyekolahkanku ke pesantern.
Walau terlambat satu tahun, aku ingin masuk MTsN Barabai
(MTs yang paling bagus saat itu), namun sangat disayangkan, rapotku hilang di
Sekolah Dasar. Karena salah satu persyaratan masuk MTsN Barabai adalah rapot,
maka aku tidak bisa bersekolah disana. Ibuku menyarankan agar aku sekolah di Desa
Palajau, tempat Ibuku lahir.
MTsN Pandawan, itulah nama sekolah yang berada di Desa
Palajau, yang menjadi ‘pelarian’ aku bersekolah. Sekolah inilah yang
menjadikanku seorang Pramuka yang sangat baik dalam pengamalan Dasadarma, dan
akhirnya aku terpilih untuk mewakili sekolah sekaligus Kabupaten pada acara
JAMNAS IX 2011 (JAMbore NASional ke 9 tahun 2011) di Kota Palembang, Sumatra
Selatan. Aku tidak mengeluarkan uang sedikitpun, semuanya ditanggung oleh
pemerintah Kabupaten.
Lulus dari MTsN Pandawan, aku ingin masuk SMAN 1 Barabai
karena ingin menghindari pelajaran agama. Tetapi kalimat ‘pelarian’ muncul
lagi. Akhirnya aku masuk MAN 1 Barabai.
MAN 1 Barabai ketika aku masuk, sangat berbeda dengan
ketika aku lulus. Kenapa? Certianya begini. Karena aku dan teman-temanku
lulusan dari sekolah kampung di khawatirkan akan banyak menyebabkan masalah di
MAN 1 Barabai, jadi kami diletakan dikelas paling ujung yang diberi nama kelas
10 F. Sedangkan anak-anak kota yang dulunya kelas unggulan diletakan dikalas 10
A. Kami sadar bahwa kalau dalam bidang akademik kami kalah, tapi kalau dalam
bidang lain kamilah juaranya. Kalau ada kelasmiting atau lomba lainnya kami
selalu masuk 3 besar bersanding dengan kaka-kaka kelas 11 dan 12. Selain itu
kami dikelas punya prinsip ‘apa yang bisa kamu kerjakan, kerjakanlah! Dan apa
yang tidak bisa kamu kerjakan, berusahalah!’.
Kerena aku berhasil masuk anggota OSIS waktu kelas 10.
Ketika kelas 11 dicalonkan menjadi Ketua OSIS, namun gagal. Mungkin karena
wibawa ku yang kurang. Aku lebih mirip Paman Sekolah daripada seorang murid.
Aku hafal setiap tataletak benda yang ada disekolah. Karena aku lah yang selalu
disuruh dalam bidang perlengkapan kalau sekolah mengadakan acara apapun. Bahkan
ketika sekolah ingin membuat kolam ikan, aku bersama teman si Ipul lah (Ipul adalah nama sahabatku yang nanti kalau aku sudah dapat izin dan berani, akan ku ceritakan persahabatan kami dari SD sampai sekarang) yang disuruh untuk membuat
lubangnya. Ada juga guru yang membeli pupuk kotoran sapi dan akulah yang
disuruh membawa pupuk itu menggunakan grobak. Ketika atap sekolah bocor, aku lah
orang yang disuruh untuk memperbaiki. Perlu kalian ketahui, apa yang dapat di sombongkan dari semua ini?
Yang paling membuatku sedih ketika akhir kelas 12, kami
satu kelas disuruh mendaftar SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi
Negri) mengisi nilai, bikin email, mencek hasil kelulusan dan mencetak hasil
kelulusan. Akulah yang mengerjakan semua pekerjaan itu untuk temanku yang punya
minat masuk perguruan tinggi tetapi mereka tidak bisa menggunakan Internet.
Satu hal yang kadang aku benci dari diriku, aku paling tidak bisa menolak kalau
ada orang minta tolong atau melihat orang kesusahan didepan mataku.
Hingga akhirnya akulah yang tidak lulus SNMPTN, ku coba
masuk SBMPTN namun hasilnya sama, tidak lulus. Dan sampailah aku disini, di
IAIN Antasari Banjarmasin sebagai ‘pelarian’ lagi. Semoga saja takdir aku
disini sama seperti 'pelarian' sebelum-sebelumnya. Amin... :)
biografi singkat... :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar